Anies Baswedan Bikin Kontroversi Lagi Hari Ini

Anies Baswedan Bikin Kontroversi Lagi Hari Ini

Siapa tak kenal bersama dengan Anies Baswedan. Pria bernama lengkap Anies Rasyid Baswedan menjadi dikenal publik saat menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina periode 2007-2015. Kala itu, Anies tercatat menjadi rektor termuda di Indonesia bersama dengan umur 38 tahun. Karir Anies di bidang akademis sebetulnya tak mesti diragukan. Dia lahir berasal dari keluarga akademisi. X Learn more Anies dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat terhadap tanggal 7 Mei 1969 berasal dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid.

Rasyid Baswedan, merupakan Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia (UII). Sedangkan ibunya, Aliyah, adalah Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dari garis ayahnya, Anies terhitung merupakan cucu berasal dari pejuang nasional Abdurrahman Baswedan. Tumbuh di sedang keluarga yang benar-benar menjunjung tinggi pendidikan sebabkan Anies terhitung menempuh pendidikan sampai jenjang tertinggi. Setelah lulus berasal dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Anies melanjutkan kuliah S2 di University of Maryland.

Sementara itu, dia menamatkan S3 di Northern Illinois University. Darah akademisi terhitung sebabkan Anies menggulirkan program Indonesia Mengajar yaitu sebuah gerakan gagasan kaum muda mengajar di pelosok-pelosok area terpencil di Indonesia. Peserta Konvensi Partai Demokrat Anies Baswedan (tengah) bersiap merintis sesi wawancara oleh komite konvensi di Wisma Kodel, Jakarta, Selasa (27/8/2013). Selain Anies, tiga tokoh lainnya direncanakan akan mengikuti konvensi terhadap hari ini yaitu Endriartono Sutarto, Hayono Isman, dan Irman Gusman.

Jakarta, Selasa (27/8/2013). Selain Anies, tiga tokoh lainnya direncanakan akan mengikuti konvensi terhadap hari ini yaitu Endriartono Sutarto, Hayono Isman, dan Irman Gusman. (TRIBUNNEWS/Dany Permana) Masuk ke politik melalui konvensi Tak senang berkarir di bidang pendidikan, Anies menjadi masuk ke dunia politik. Tahap pertama upayanya terjun ke dunia politik adalah bersama dengan mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Anies terima undangan berasal dari partai besutan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono itu bersama dengan 11 orang lainnya terhadap Agustus 2013. Anies pun memulai kronologis konvensi bersama dengan melakukan kampanye ke bermacam daerah.

Dia terhitung membentuk sebuah komunitas relawan bernama “turun tangan” untuk memuluskan langkahnya didalam konvensi. Baca juga: Peserta Konvensi Demokrat Boleh Jadi Menteri Capres Mana Pun Kandidat lain terhitung melakukan hal yang sama. Saat itu para pesaing Anies yaitu Ali Masykur Musa, Dahlan Iskan, Dino Patti Djalal, Endriartono Sutarto, Gita Wirjawan, Hayono Isman, Irman Gusman, Marzuki Alie, Pramono Edhie Wibowo dan Sinyo Harry Sarundajang. Namun, sayangnya, konvensi ini tak berlanjut sampai kontestasi penentuan presiden 2014 dikarenakan nada Partai Demokrat merosot drastis setelah dihantam kasus korupsi sejumlah kadernya. Presiden Joko Widodo dan Wapres Maruf Amin memperkenalkan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Jakarta, Rabu (23/10/2019). (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A) Jadi menteri dan kena reshuffle Anies tampaknya terhitung tidak muluk-muluk menyasar untuk langsung menjadi calon presiden kala mengikuti konvensi calon presiden Partai Demokrat. Pelan tapi pasti, nama Anies menjadi dikenal publik setelah mengikuti konvensi itu. Hal ini langsung dilirik oleh pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang udah mendapatkan perlindungan sejumlah partai untuk maju didalam Pilpres 2014. Jokowi langsung merekrut Anies untuk masuk didalam tim suksesnya. Tak tanggung-tanggung, Anies ditunjuk sebagai juru berbicara paslon Joko Widodo – Jusuf Kalla terhadap Pilpres 2014. Baca juga: Anies Baswedan, Dilantik, Dicopot, dan Dilantik Lagi oleh Jokowi Posisi strategis itu makin sebabkan nama Anies kian berkibar.

Anies pun lebih dikenal luas, apalagi tetap bersama dengan Jokowi didalam setiap kesibukan kampanye di bermacam daerah. Jokowi-JK akhirnya memenangi Pilpres 2014. Anies lalu dipercaya menjadi Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikbud) didalam Kabinet Kerja 2014-2019. Namun, jabatan menteri tak bertahan lama. Anies mesti terpental berasal dari kabinet dikarenakan terkena reshuffle terhadap Juli 2016. Calon gubernur DKI Jakarta 2017 Anies Baswedan kala berorasi di kampanye akbar calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomer urut 3 di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (5/2/2017). Acara ini merupakan bentuk perlindungan berasal dari para simpatisan untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Anies – Sandi. Lihat Foto Calon gubernur DKI Jakarta 2017 Anies Baswedan kala berorasi di kampanye akbar calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomer urut 3 di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (5/2/2017)

. Acara ini merupakan bentuk perlindungan berasal dari para simpatisan untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Anies – Sandi. (KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI) Panggung Pilkada 2017 Dua kali karir politiknya tak berujung mulus. Pertama didalam konvensi dan kedua kala menjadi Menteri Pendidikan. Setelah muncul berasal dari kabinet, Anies kala kala tak masuk hingar bingar perpolitikan tanah air. Namun, tak butuh kala lama baginya untuk ulang menjadi sorotan. Tanpa disangka, Anies memastikan maju didalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Meskipun kala itu dia tak punya partai, elektabilitas Anies menjanjikan. Namanya dilirik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerindra, dua partai yang sebelumnya berseberangan bersama dengan Anies kala Pilpres 2014. Baca juga: Sejumlah Catatan Penting KPU berasal dari Pilkada 2017 Di didalam politik, tak tersedia musuh yang abadi dan tak tersedia rekan yang kekal. Dua partai itu pun setuju mengusung Anies bersama dengan Sandiaga Uno untuk mampu mengalahkan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Mendapatkan nomer urut 3 didalam Pilkada DKI, Anies sukses menang berasal dari pasangan Ahok-Djarot di putaran kedua. Sementara terhadap putaran pertama, satu pasangan tersingkir dikarenakan mendapat nada lebih rendah dibanding Ahok-Djarot dan Anies-Sandi, yaitu pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Silvyana Murni. Baca juga: Sinyal Rekonsiliasi Pasca-Pilkada DKI Jakarta

Pilkada DKI Jakarta 2017 terhitung pilkada yang dramatis dikarenakan tidak benar satu calon yaitu Ahok berakhir di penjara dikarenakan tersandung kasus penistaan agama. Di sedang kegaduhan politik yang tercipta selama pelaksaan Pilkada 2017, proses pelantikan Anies-Sandiaga Uno berjalan mulus di Istana Kepresidenan terhadap 16 Oktober 2017.

Namun, belum genap setahun memimpin roda kepemimpinan di Ibu Kota, Anies sesudah itu mesti ‘berjalan satu kaki’. Pasalnya, Sandiaga mengundurkan diri terhadap Agustus 2018 dikarenakan mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden terhadap Pilpres 2019. Kemudian, posisi Sandiaga digantikan kader Partai Gerindra Ahmad Riza Patria yang formal dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta di Istana Negara terhadap 15 April 2020. Kontroversi selama menjabat Gubernur 1. Normalisasi vs Naturalisasi Menjabat sebagai orang nomer satu di Ibu Kota sebetulnya tak gampang supaya setiap gerak gerik Anies tetap diawasi warga. Kontroversi pun tak terlepas berasal dari kepemimpinan Anies.

Kontroversi yang paling ramai dibicarakan adalah pengendalian banjir Ibu Kota. Saat awal menjabat sebagai orang nomer satu di Ibu Kota, Anies berani merubah istilah normalisasi menjadi naturalisasi. Anies pertama kali mengenalkan istilah naturalisasi sebagai pengendalian banjir Ibu Kota terhadap 7 Februari 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *