Capres-Cawapres 2024 Nasdem Sudah Perhitungkan

Capres-Cawapres 2024 Nasdem Sudah Perhitungkan

Partai Nasdem dapat menggelar konvensi calon presiden Republik Indonesia 2024. Agar konvensi itu sanggup menghasilkan calon pemimpin terbaik, Nasdem pun meminta masukan dari para ahli dan pengamat perihal konsep tersebut.

“Kita mengidamkan pandangan dari para ahli perihal konvensi, baik dari aspek sosiologis, filosofis, praktis, mekanisme, substansi, surveinya dan lain-lain supaya aspeknya luas. Untuk beroleh konsepsi yang mendalam sesungguhnya sanggup diskusi 10 kali,” kata Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem Siti Nurbaya dalam info tertulis.

Siti yang kini menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menjelaskan proses konvensi Capres sanggup di awali terhadap akhir 2021 atau awal 2022. Pada prinsipnya, Nasdem sebagai partai moderen dengan jargon antimahar ini mengidamkan tersedia pendidikan politik yang baik untuk negeri ini.
Baca Juga

Malaysia dapat Bayar Uang Muka Vaksin Covid-19 RS PKU Solo Prioritas Penanganan Covid-19 terhadap 2021 70 Persen Pasien Covid-19 di Xinjiang Tinggalkan RS

Dalam diskusi yang digelar terhadap Rabu (18/11) lalu itu, datang sejumlah pengamat politik seperti J Kristiadi, Arya Fernandes, Umbu Pauta, Noory Okhtariza, Phillips J Vermonte, Ray Rangkuti, dan Hamdi Muluk. Diskusi digelar secara hybrid, online dan offline.

Ketua Dewan Pertimbangan Nasdem Siswono Yudo Husodo mengungkapkan, gagasan konvensi sesungguhnya terlihat telah lama. Tepatnya sejak pilpres selesai lalu. “Niat konvensi ini amat baik untuk mencari putra terbaik. Peran parpol ini kan amat strategis, maka tugasnya adalah mencari putra terbaik dengan cara konvensi,” ujarnya.

Siswono melanjutkan, terkecuali Parpol dan rakyat mencari pemimpin terbaik, maka dapat tercipta primus interpares. Yaitu proses penentuan seorang pemimpin yang cara pelaksanaannya berdasarkan musyawarah dengan berbagai beberapa syarat unggul yang wajib dimiliki.

“Menghasilkan orang yang baik-baik di pada orang yang baik-baik,” ucapnya.

Ia melanjutkan, kendala paling besar yang dihadapi oleh partainya dalam mencari pemimpin terbaik, adalah perihal aturan presidential threshold (PT) atau ambang batas mengajukan capres sebesar 20 persen. Siswono menjelaskan dengan terdapatnya aturan tersebut, maka cuma PDIP saja yang sanggup mengajukan sendiri capres.

Sementara Nasdem dan parpol lain wajib berkoalisi untuk memenuhi presidential threshold. Sementara perihal aturan siapa yang sanggup turut dalam konvensi capres Nasdem, Siswono menjelaskan aturan secara umum adalah WNI berusia di atas 40 tahun. Sedangkan aturan terlebih andaikata memiliki kapabilitas. Selain itu wajib pertimbangkan pula ideologi dan finansial.

Pengamat politik dari CSIS, J Kristiadi mengaku senang dengan konsep Nasdem menggelar konvensi. Langkah ini merupakan sebuah terobosan. Namun, di segi lain, dia terhitung menjadi sedih terkecuali konvensi ini menjaring dari luar. Ini artinya partai ini tidak sanggup mencetak kadernya sendiri. Partai cuma repot administrasi namun lupa membina kader sendiri.

Sedangkan pengamat politik Arya Fernandes menjelaskan bahwa dalam konvensi dan seleksi kepemimpinan mensyaratkan terdapatnya pencalonan yang terbuka, demokratis, dan kompetitif. Selain itu, terbukanya ruang kontestasi yang partisipatoris, meningkatnya komitmen kader dan pemilih partai, serta terbentuknya party-id yang kuat.

Konvensi ini pun wajib berikan efek kepada partai. Efek itu sanggup berwujud perolehan suara partai, berefek terhadap terbentuknya koalisi, serta terbangunnya narasi positif dalam seleksi kepemimpinan nasional.

’”Kita sanggup belajar dari konvensi parpol-parpol sebelumnya, yakni soal potensi pembelian suara dan konvensi berbiaya mahal. Dan kami sanggup belajar soal kegagalan konvensi karena ada masalah memenuhi syarat pencalonan dan perubahan arah politik Ketua Umum,” ujarnya.

Pengamat politik Phillips J Vermonte terhitung amat menolong konsep konvensi partai Nasdem. Jika Nasdem duluan menggelar konvensi, barangkali partai lain dapat mengikuti. Dia berpesan supaya Nasdem sanggup menanggung terdapatnya komitmen dari partai-partai. Termasuk komitmen Nasdem terhadap hasil konvensi.

“Kalau partai lain tidak menyaksikan terdapatnya itu (loyalitas Nasdem terhadap hasil konvensi), mereka (partai-partai) tidak dapat ikut. Kegagalan konvensi Golkar dan Demokrat wajib jadi pembelajaran berharga,” kata Phillips.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *