Habib Rizieq Akan Menjadi Menteri 2021

Habib Rizieq Akan Menjadi Menteri 2021

Habib Rizieq miliki kans yang terlampau besar untuk dipilih menjadi menteri.

Dari dulu, politik itu cair. Hukumnya sebenarnya telah begitu dari sononya. Mangkanya, kalau tersedia pertanyaan “Selain es, benda padat apa lagi yang sanggup dicairkan?” niscaya politik akan masuk sebagai salah satu jawaban mendampingi coklat batangan, sertifikat, dan BPKB.

Politik, pada satu titik, lebih-lebih lebih cair ketimbang air. Air, meski miliki karakter beralih wujud ikuti area di mana ia berada, tetapi senantiasa saja ia terdiri dari hidrogen dan oksigen. Hal tersebut tidak serupa bersama dengan politik yang, meskipun cair dan ikuti area ia berada, tetapi unsur-unsur di dalamnya sanggup beralih lebih-lebih bersama dengan hal-hal yang tak dulu disangka sebelumnya.

Dengan karakter cair yang secair-cairnya itu, maka bukanlah perihal yang mengherankan kalau dalam politik, apa saja sanggup tumpah. Tak kalau kapabilitas pendukung dan penopang. Ia sanggup datang dan pergi begitu saja seiring bersama dengan keperluan politik kekuasaan.

Dengan peraturan yang sama, bukan perihal yang mengherankan terhitung kalau nanti, atau lebih-lebih setelah ini, seorang Habib Rizieq Shihab akan dipilih menjadi menteri Jokowi.

Ini serius. Kita semua tahu, selagi ini, NU dan Muhammadiyah jadi sering tak seiring bersama dengan pemerintah, bersama dengan segala barangkali yang ada, bukan tidak mungkin kalau kelak, seiring berjalannya waktu, baik NU dan Muhammadiyah tidak lagi diperhitungkan sebagai kapabilitas penopang pemerintah dari segi group agama.

Sebagai gantinya, pemerintah akan jadi mengalihkannya kepada group Islam kanan yang sebenarnya selagi ini sering beririsan bersama dengan sosok Habib Rizieq Shihab. Apalagi, belakangan ini, kami semua mengerti bahwa kabar kepulangan Habib Rizieq telah menjadi salah satu moment besar yang dikabarkan di mana-mana.

Bersamaan bersama dengan kepulangan habib kami yang jatuh pada hari pahlawan, reputasi citra politik kemiskinan dan kesederhanaan Jokowi yang dahulu dapat dukungan penduduk luas telah terjun begitu rendahnya, perihal tersebut disempurnakan bersama dengan kekecewaan dua ormas keagamaan yang diabaikan oleh Jokowi seperti kacang lupa kulit. Praktis, perihal ini sebabkan Jokowi berkenan tak berkenan kudu merangkul golongan yang miliki basis massa yang kuat untuk menunjang roda kekuasaan yang tampak jadi berkarat.
Baca juga: Sampai Akhir Masa Pemerintahannya, Jokowi Gagal Mewujudkan Janji Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Hal tersebut bukan omong kosong belaka, jauh-jauh hari, Soeharto telah lebih dahulu melakukannya. Ketika kekuatannya telah jadi tumbang, ia menggunakan langkah paling ampuh untuk menunjang lagi kekuatannya, yakni bersama dengan menyita hati golongan yang sepanjang ini ia tindas. Dan sepanjang ini kami mengerti betul, golongan yang tampak paling dijauhi oleh Jokowi dan antek-antek buzzernya itu tak ada lain adalah golongan-golongan yang berada pada spektrum “Islam kanan,” terhitung di dalamnya adalah FPI.

Tidak kesulitan memperlihatkan perihal ini, karena hanya bersama dengan mengamati komentar para buzzer atas isu kepulangan Habib Rizieq saja telah lumayan untuk memperlihatkan bahwa sepanjang ini pemerintah tidak bersahabat bersama dengan FPI.

Sayangnya, akhir-akhir ini, Jokowi tidak sanggup menutup matanya begitu saja dan melepaskan perang dingin antara dia dan Habib Rizieq berjalan tetap menerus di sedang rontoknya popularitas yang ia punya. Maka, salah satu langkah paling masuk akal bagi Jokowi selagi ini tak ada lain adalah bersama dengan berbalik haluan kepada umat Islam seperti yang dilaksanakan Soeharto.

Sinyal-sinyal bahwa kedua kubu ini sanggup bersatu telah terbaca lewat dua hal. Pertama, Habib Rizieq heboh bersama dengan inspirasi revolusi akhlak yang serupa bersama dengan revolusi mental ala Jokowi. Hal itu tandanya bahwa tersedia kesamaan rasa di antara keduanya. Apalagi antara revolusi mental dan revolusi akhlak adalah revolusi yang sanggup dianggap hanya wacana belaka, karena kami tahu, bagaimana barangkali mental dan akhlak sanggup direvolusi kalau tidak sertakan revolusi ekonomi-politik? Seolah-olah akhlak dan mental tidak dibentuk dan dikondisikan oleh susunan ekonomi dan politik.

Revolusi ekonomi-politik, tidak sanggup tidak, hanya sanggup terbentuk lewat kapabilitas politik yang mantap dan tidak ringan goyah. Dan salah satu jalur untuk menuju fase tersebut adalah bersama dengan kemanunggalan. Termasuk salah satunya kemanunggalan antara Jokowi dan Habib Rizieq, pasti saja.

Kedua, Habib Rizieq direncanakan akan tiba di Indonesia pada tanggal bagus, yakni bertepatan bersama dengan hari pahlawan. Tanggal kepulangan ini pasti saja bukan sembarang tanggal. Ada pesan tersirat yang sanggup dibaca lewat penentuan tanggal tersebut.
Baca juga: Betapa Susahnya Menjadi Pembaca Sekaligus Penulis di Mojok

Menurut saya, penentuan hari pahlawan bukan penanda bahwa Habib Rizieq datang untuk melawan oligarki yang menyerang rakyat bersama dengan UU yang sedang ngetren itu, melainkan sebagai penguat dari inspirasi revolusi akhlak sebagaimana yang digaungkan sedari awal oleh FPI.

Nah, untuk sebuah gerakan yang senapas bersama dengan inspirasi Jokowi, Bukankah telah seharusnya seorang Habib Rizieq dijadikan sebagai pahlawan? Apalagi Jokowi sepanjang ini miliki hobby beri tambahan penghargaan kepada siapa pun yang di awalnya tak ada disangka-sangka.

Nah, bersama dengan dua perihal tersebut, kesempatan kerja serupa antara keduanya menjadi terlampau terbuka.

Bukan suatu hal yang tidak mungkin bagi Jokowi dan Habib Rizieq untuk menjalin jalinan baik atas nama rekonsiliasi. Jokowi diuntungkan bersama dengan dihilangkan tuduhan-tuduhan anti-Islam, selagi Habib Rizieq akan dikagumi karena berhasil menjadi pahlawan yang telah memperjuangkan Islam hingga diakomodir oleh negara.

Nah, kalau rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo termanifestasi bersama dengan dipilihnya Prabowo sebagai menteri pertahanan, maka bukan tidak mungkin pula kalau rekonsiliasi bersama dengan Habib Rizieq terhitung diwujudkan bersama dengan langkah yang serupa.

Bukan perihal yang kesulitan bagi Jokowi untuk menentukan Habib Rizieq sebagai seorang menteri. Kalaupun ternyata tidak tersedia kementerian yang tepat untuk Habib Rizieq atau tidak tersedia menteri yang sanggup digantikan oleh Habib Rizieq, Jokowi sanggup saja membentuk kementerian baru. Ini perihal yang terlampau barangkali bagi Jokowi. Wong “memandulkan” KPK dan berusaha UU yang diprotes banyak orang saja Jokowi bisa, lebih-lebih hanya membikin kementerian baru.

Ada banyak pilihan bidang yang sanggup dipilih oleh Jokowi untuk di-kementerian-kan, contoh Kementerian Koordinator Bidang Ormas, atau Kementerian Demokrasi dan Unjuk Rasa, atau Kementerian Usaha Pembelaan Agama. Jokowi tinggal pilih. Habib Rizieq tinggal ditanya apa saja kebutuhannya.

Ingat, politik itu tak sekedar seperti air, terhitung kudu seperti pramuka: di sini bahagia di sana senang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *