Megawati Beri Pesan Hentikan Kebencian 2020

Megawati Beri Pesan Hentikan Kebencian 2020

Presiden RI Kelima yang terhitung Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengimbuhkan refleksi atas perayaan ke 92 th. Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Megawati menyatakan bernyanyi pasti lebih baik dibanding menyebarkan kebencian, bersama dengan arti bahwa berpolitik itu tak boleh laksanakan sesuatu yang justru merusak diri sendiri.

“Lebih sedap menyanyi lho daripada kami menyebarkan kebencian. Untuk apa ya menyebarkan kebencian ya? Yang rugi rakyat terhitung kok. Masa mau dibohongi terus itu rakyat? Itu untuk siapa? Kan hanya untuk kesombongan dan ego daripada orang ini. Kita hidup baik-baik saja lah. Saya ajarkan kepada anak cucu saya, yang namanya dunia ini dibikin oleh Allah SWT bersama dengan segala makhluk, jadi ya bukan manusia saja. Ya ada binatang, ya tanaman, dan lain sebagainya. Sekarang yang merusak siapa? Manusianya. Manusia lho,” tutur Megawati saat peresmian 13 kantor, 1 patung Soekarno dan 1 sekolah partai yang bertepatan bersama dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada Rabu (28/10/2020).

Megawati mengaku dirinya memandang ada kecenderungan ajang penentuan presiden (Pilpres) jadi ajang untuk dongkel mendongkel. Hal seperti ini menyebabkan banyak yang bertanya soal tata peraturan kenegaraan.

“Kalau ada yang mau merusak namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia, betul aku tidak bohong. Coba saja. Saya ini sudah nahan sabar kan. Ibu di bully, ya sudah biarin aja dah orang terhitung mempunyai mulut, gitu pikiran saya. Sekarang anda bayangkan kalau keluargamu, anak-anakmu dibikin seperti itu. Kalau tidak ada rasa sakit hati, itu bohong,” ujar Megawati di hadapan kader partai dan wartawan yang hadir secara virtual.

“Itu demokrasi jangan sampai merusak ke dalam,” tegas Megawati.

Padahal, lanjut Megawati, berpolitik yang murni justru membuka peluang untuk membangun bangsa dan negara, serta terlampau berfungsi buat masyarakat. Sebagai contoh. kantor baru partainya yang diresmikan, bukan cuman jadi perangkat administrasi, namun terhitung tempat tinggal rakyat. Maka kalau rakyat datang untuk bertanya, maka di situ kader partai bisa menjawab.

Menurutnya, manusia diciptakan secara mulia seturut bersama dengan citra Allah yang Maha Mulia. Maka manusia tidak seperti binatang lainnya.

“Kita sendiri berpikir, namun kami terhitung diberi nurani. Kehidupan ini, pikiran dan nurani, itu kudu satu. Masa mulut kami yang bagus disuruh berbohong? Berbohong itu kan bermakna tidak menyatakan kebenaran,” katanya.

Megawati selanjutnya menyinggung sedikit soal konflik fisik di Timur Tengah di pada masyarakat serumpun dan mayoritas satu agama. Dirinya pun sempat bertanya kepada Raja Saudi Arabia secara segera perihal perihal tersebut. Dan sang raja menjawab kepada Megawati, bahwa masalahnya bukan agamanya, namun hati orang-orang Timur Tengah sendiri. Dan itu bermakna bahwa nurani dan pikiran untuk kedamaian kudu dihidupkan.

“Coba saja kalian pikir kalau di keluarga berantem, semestinya rezeki masuk lebih banyak, malah nggak masuk lebih banyak. Si istrinya ngamuk, suami ngamuk,” kata Megawati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *