Perang Antara PDIP Surabaya Bisa Rugikan Eri-Armuji di Pilkada Nanti

“Saya menyerukan kepada saudara-saudara yang setia di barisan Whisnu Sakti Buana, setia pada peristiwa PDIP Kota Surabaya, amankan posisi Anda. Amankan lokasi Anda. Lawan Risma, lawan Eri-Armuji. Karena kekalahan Risma, kekalahan Eri-Armuji, adalah kemenangan PDIP, kemenangan ibu Megawati Soekarnoputri, kemenangan peristiwa perjuangan Kota Surabaya. Merdeka!” Pernyataan tidak biasa berikut terlihat dari mulut Jagad Hariseno pada Minggu 15 November lalu. Disebut tidak biasa gara-gara ia adalah kader PDIP, partainya Wali Kota Surabaya sementara ini Tri Rismaharini sekaligus pengusung pasangan calon Eri Cahyadi-Armuji di Pilkada Surabaya.

Ia menuding Risma tengah membangun dinasti politik sendiri di struktur PDIP Surabaya lewat Eri Cahyadi, seorang birokrat yang lama menjadi bawahannya di pemerintah kota, dan dulu dianggap sebagai “anak saya.” Sedangkan Komando Tim Relawan Pemenangan Eri-Armuji, kata Seno, diisi oleh Fuad Bernardi, anak kandung Risma yang di masa depan bakal menguasai DPC PDIP Surabaya. “Risma sudah tidak sanggup kita anggap remeh atau kita anggap enteng. Kepentingan politik Risma mendapat dukungan oleh kebolehan oligarki politik bersama pertolongan finansial yang lumayan kuat di belakang, mesti kita lawan,” kata Seno. Bahkan, lanjut Seno, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto pun tak sanggup menghentikan Risma di Surabaya.
Bandar Taruhan
Seno termasuk orang lama di PDIP Surabaya. Ia adalah anak sulung dari Sutjipto Soedjono, insinyur dan politikus yang turut mendirikan PDIP bersama Megawati Soekarnoputri di penghujung Orde Baru, yang wafat pada 2011 silam. Seno termasuk merupakan kakak dari Whisnu Sakti Buana, wakilnya Risma pada 2014-2015 lalu. Sempat mencuat isu rivalitas pada Whisnu dan Eri. Jika Eri dekat bersama Risma, Whisnu dikabarkan merupakan jagoan Hasto.

Seolah mengonfirmasi rivalitas, Megawati menenangkan Whisnu sementara mengumumkan Eri yang dipilih sebagai jagoan partai pada 2 September lalu. Meski demikian, klaim rivalitas ini disanggah Hasto, dan Whisnu kini menjadi panglima pemenangan Eri-Armuji. Whisnu sudah menanggapi perbedaan politik bersama kakaknya ini. Ia menyebutkan “urusan keluarga kita menyelesaikan sesudah perang menang.” Membelotnya kader PDIP Kota Surabaya memang bukan kali in saja. Sebelum Seno, tersedia Mat Mochtar yang terang-terangan menolong kompetitor Eri-Armuji, yaitu Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno.

Konsekuensinya, Mat Mochtar akhirnya dipecat. Dampak Elektoral Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPP PDIP Djarot Syaiful Hidayat menyebutkan pertolongan ‘orang-orang PDIP’ pada calon lain ini merupakan kiat politik pecah belah yang dilancarkan kubu lawan.

Politik pemecah belah sepanjang masa kolonial senantiasa dilawan oleh seluruh anak bangsa, termasuk NU, Muhammadiyah, dan PNI sementara itu. Jadi, rasanya kurang elok jika tim Machfud-Mujiaman mobilisasi politik adu domba, termasuk apa yang ditunaikan oleh Mat Mochtar. Sebab itu cara kolonial yang ditentang arek-arek Surabaya,” kata Djarot, Kamis (19/11/2020) lalu, dikutip dari Antara.

Ia menyebutkan Machfud-Mujiaman jalankan politik pecah belah gara-gara tak mempunyai berlebihan lain tak hanya retorika, yang mereka membuktikan sementara debat publik terakhir, Rabu (18/11/2020) lalu. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta masa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini bilang keduanya tak menyadari pengelolaan pemerintahan, bahkan dan tata kota Surabaya. Direktur Komunikasi dan Media Tim Pemenangan Machfud-Mujiaman Imam Syafii membantah tudingan berikut bersama menyebutkan justru masalahnya terdapat di PDIP sendiri yang tidak sanggup mengonsolidasikan para kader.

“Mosok sing dituduh wong liyo?” katanya, Jumat (20/11/2020) lalu. Dia termasuk memastikan tak dulu membujuk bahkan memaksa Seno dan Mat Mochtar menolong Machfud-Mujiaman. Menurut pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga Surabaya Suko Widodo, sikap Seno bisa saja memang bukan gara-gara ia dipengaruhi kubu lawan, namun wujud simpati pada sang adik yang ‘disingkirkan’ dari pemilihan.

“Mungkin Seno tidak tega melihat adiknya, akhirnya marah. Itu tidak terbaca oleh orang. Sebagai kakak yang adiknya digitukan, kan, kecewa,” ujar Suko kepada reporter Tirto, Jumat. Terlepas dari apa yang memang tersedia di balik layar, menurut Suko, friksi pada kakak beradik Seno dan Whisnu sanggup merugikan Eri-Armuji. Mesin PDIP untuk meraup nada publik menjadi tak maksimal. “Sedikit banyak nada PDIP tergerus, misalnya dari nada yang didapat di Pileg 2019,” ujar Suko.

Memaksimalkan sumber kekuatan partai perlu gara-gara elektabilitas Eri sanggup dibilang merosot. Dalam simulasi penentuan wali kota yang ditunaikan Poltracking Indonesia pada 19-23 Oktober lalu, nada Machfud mencapai 51,9 persen, sedangkan Eri hanya mendapat 34,3 persen.

Sementara dalam simulasi penentuan wakil wali kota, Mujiaman berada di angka 47,5 persen, di atas Armuji yang hanya 30,7 persen. Simulasi berpasangan pun bakal senantiasa memenangkan Machfud-Mujiaman bersama nada 51,7 persen, mengalahkan Eri-Armuji yang hanya 34,1 persen.

Bahkan, para pemilih Risma dan Whisnu pada periode sebelumnya—sebanyak 80,2 persen—lebih mempunyai kecenderungan memilih Machfud-Mujiaman bersama angkat 49,4 persen, mengungguli Eri-Armuji yang hanya 37,8 persen. Namun, menurut Suko, sanggup menjadi termasuk pasangan calon yang diusung PDIP berikut memperoleh nada dari ceruk lain. Sebab menurutnya tipikal penduduk kota tidak sanggup dipengaruhi dan mempunyai pilihan politik sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *