Pemberontakan 1958 Jadi Alasan Partai Politik Masyumi

Pemberontakan 1958 Jadi Alasan Partai Politik Masyumi

Dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Pasang Bola  DR. Arif Akhyat, M.A menyebutkan bahwa partai politik Masyumi kerap berikan kritik tajam di era kepemimpinan Soekarno.

Jarak politik pada Masyumi dan Soekarno yang pada kelanjutannya mengakibatkan sang proklamator menghendaki Masyumi mengundurkan diri bersama batas selagi 30 hari. Hingga batas selagi yang ditentukan, senantiasa tak tersedia respons berasal dari Masyumi dan kelanjutannya partai politik itu dibubarkan oleh Mahkamah Agung berdasar Ketetapan (Tap) Presiden th. 1959. Namun di segi lain, tersedia sumber yang menyebutkan bahwa Masyumi mempelopori pemberontakan-pemberontakan di era Soekarno hingga kelanjutannya dibubarkan.

“Partai ini dilarang pada th. 1960 oleh Presiden Sukarno gara-gara dikira menunjang pemberontakan PRRI,” tulis Wikipedia. Lantas, benarkah partai Masyumi terlibat didalam pemberontakan PRRI pada Soekarno di th. 1958? Baca juga: Menilik Jejak Masyumi, Partai Politik Besar yang Bubar di Era Soekarno Bagaimana kebenarannya? Arif mengatakan, peristiwa sebenarnya miliki banyak versi.

Memang tersedia sumber yang menyebut bahwa partai Masyumi terlibat didalam pemberontakan daerah-daerah di th. 1958. “Tetapi pembuktian secara hukum, aku belum banyak belajar berkenaan keputusan secara hukum ya, tetapi itu banyak yang dilawan oleh anggota Masyumi. Mereka (menyebut bahwa) bukan pemberontak,” kata Arif lewat sambungan telephone bersama .com, Senin (9/11/2020).

“Karena terlalu berseberangan (Masyumi dan Soekarno) itulah, yang menurut aku menjadi basic kenapa Soekarno tidak senang (Masyumi),” imbuhnya. “Pada masanya, yang melawan Soekarno disikat, terutama gara-gara Soekarno dekat bersama anggota militer dan dekat bersama PKI. Jadi secara militer, (Soekarno) miliki kekuatan bersama Angkatan Darat dan secara politik miliki kekuatan bersama PKI.

” Arif menyebutkan, pembuktian benar-benar tentang keterlibatan Masyumi didalam pemberontakan di daerah-daerah wajib dikaji kembali untuk sadar apakah betul Masyumi terlibat. Daerah melawan pusat “Kalau masalah melawan pusat berasal dari daerah, iya,” kata Arif. Dia berikan contoh, seperti pemerintahan dan pembangunan yang cuma terpusat di Jakarta. Arif menyebut, Soekarno membangun Monumen Nasional (Monas), masjid Istiqlal, dan lain sebagainya yang megah.

Di segi lain, pembangunan di daerah terlalu minim dan miskin. Bahkan banyak daerah di luar Pulau Jawa, terutama Jakarta masih kekurangan logistik dan jauh berasal dari berkecukupan. Ketika orang-orang di daerah tidak mendapat perlakuan yang adil berasal dari pemerintah, hal ini disebut Arif wajar, jikalau penduduk yang tinggal di daerah menghendaki haknya. “Tapi direspons oleh Soekarno bersama pembubaran yang mencoba mengkritik,” kata Arif.

Baca juga: Jarang Disorot, Ini 3 Peran Penting Etnis Tionghoa didalam Sumpah Pemuda Oleh gara-gara itu, kebenaran tentang keterlibatan Masyumi didalam pemberontakan di daerah-daerah wajib dikaji kembali dan disertakan bukti sejarahnya. “Saya belum yakin bahwa Masyumi adalah tokoh atau organisasi yang terlibat didalam pemberontakan (1958). Harus dibuktikan,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *